Sabtu, 07 Mei 2016

Jika Engkau Seorang Guru?

Jika engkau seorang guru atau 'alim, maka adab-adab guru ada tujuh belas yaitu :
  1. Mnerima pertanyaan yang diajukan oleh murid-muridnya dan sabar atas hal itu; 
  2. Tidak terburu-buru dalam segala urusan 
  3. Duduk dengan penuh wibawa disertai ketenangan dan menundukan kepala; 
  4. Tidak bersikap sombong kepada semua manusia, kecuali terhadap orang-orang yang dzolim dan terang-terangan menunjukan kezdolimannya untuk mencegah mereka berbuat dzolim, karena bersikap sombong terhadap orang yang sombong adalah sedekah seperti tawadhu' terhadap orang yang tawadhu'; 
  5. Mengutamakan tawadhu' di tempat-tempat pertemuan dan majlis-majlis; 
  6. Tidak bermain dan bercanda; 
  7. Menunjukan kasih sayang pada pelajar diwaktu mengajarnya dan sabar terhadap siswa yang tidak pandai bertanya tetapi mengaku mengetahui sesuatu sedang ia tidak mengetahuinya, yaitu memperlakukannya dengan sikap dan perkataan yang abik; 
  8. Memperbaiki siswa yang bebal dengan bimbingan yang baik; 
  9. Tidak memarahi siswa yang bebal dan tidak menyindirnya; 
  10. Tidak sombong, tidak segan dan tidak malu mengatakan : " Saya tidak Tahu" atau mengatakan "Wallahu 'Alam" jika tidak mengatahui; 
  11. Memusatkan perhatian kepada penanya dan memahami pertanyaanya untuk menjawab masalah; 
  12. Menerima argumentasi atau dalil yang benar dan mendengarkannya, meskipun dari lawan karena mengikuti kebenaran adalah wajib; 
  13. Tunduk kepada kebenaran dengan kembali kepadanya ketika bersalah, sekalipun kebenaran itu dari orang yang lebih rendah kedudukannya; 
  14. Melarang siswa mempelajari ilmu yang membahayakannya, seperti sihir, ilmu nujum 
  15. Melarang siswa dari mengharap selain ridha Allah dan negeri akhirat; 
  16. Mencegah siswa dari menyibukan diri dengan fardu kifayah sebelum fardu 'ain; 
  17. Mengutamakan memperbaiki diri sendiri sebelum menyuruh orang lain. (Imam Al-Gozali)

Senin, 21 Maret 2016

Hidup ini bukan pilihan

Dalam Islam, sifat-sifat kemanusian itu terbagi kedalam dua bagian yaitu idhtirori dan ikhtiari, idltirori berarti sifat-sifat kemanusian yang langsung pemberian dari Alloh, seperti memiliki anggota tubuh yang sempurna dan lain-lain sedangkan ikhtiari merupakan sifat-sifat kemanusiaan yang dapat diusahakan dan dikerjakan oleh manusia sendiri seperti makan, minum dan lain-lain. Hal ini merupakan realita hidup yang dijalani oleh manusia. Pilihan dalam hidup hanya untuk hal-hal yang bisa kita usahakan dan dalam hal ini, manusia dituntut oleh Alloh untuk mengusahakannya dengan baik yaitu usaha yang di dasarkan pada ketentuan-ketentuan Alloh sebagai conto dalam bekerja seharusnya hal yang kita lakukan yang pertama adalah menetapkan tujuan dari bekerja yaitu alloh, kedua diharuskan memiliki landasan yang sesuai dengan ketentuan alloh dalam menentukan pekerjaan yang kita kerjakan dan hal lain yang menunjukan kepasrahan dan ketundukan kita pada sang pencipta yaitu Alloh.manusia yang islami adalah manusia yang menjalankan dan mengusahakan sesuatu dengan tunduk pada ketetapan dan manhaj yang telah diwahyukan Alloh. Langkah terbaik dalam menjalani hidup ini adalah memilih dan menjalankan ketatapan Alloh sang pencipta, hidup dengan tulus dan berjalan serta bergerak pada manhaj Alloh. Pilihan hidup terbaik adalah memenyadari bahwa hidup ini tidak ada pilihan kecuali yang telah dipilihkan oleh Alloh dalam bergerak dan berjalan. Membaca tulisan ini spertinya manusia tidak memiliki kebebasan dalam menjalankan hidup ini, memang idealnya hidup seperti ini karena Alloh lebih tahu yang terbaik untuk hidup manusia, justru ketika manusia semakin tunduk pada manhaj dan tasowur yang telah di tetapkan oleh Alloh pada hakikatnya manusia itu telah terbebas dari materi dan benda duniawi yang hanya sebagai keindahan semu. Orang yang membuat jalan dan aturan sendiri sesungguhnya mereka telah direnggut kebebasannya dan telah di perbudak oleh materi. kaum matrialisme beranggapan telah menciptakan peradaban manusia yang tinggi dan modern padahal sebenarnya telah menciptakan peradaban manusia yang jauh mundur pada zaman jahiliyah dimana konsep teologi hanya benda dan materi. Filosuf barat yang memiliki faham matrialisme seakan-akan menjadi pahlawan untuk peradaban dunia ini padahal pada hakikatnya telah membawa manusia pada derajat yang paling rendah yaitu manusia yang saling membunuh dan yang terkuat yang akan menang, dan kehidupan seperti ini adalah kehidupan hewan di Afrika sana.